DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 1
LATAR BELKANG MASALAH 2
RUMUSAN MASALAH 2
TUJUAN PENELITIAN 3
MANFAAT PENELITIAN 4
BAB II LANDASAN TEORI 4
TELAAH PUSTAKA 4
LANDASAN TERIOTIK 4
HIPOTESIS 4
BAB III METEDOLOGI PENELITIAN 5
IDENTIFIKASI VARIABEL 5
POPULASI PENENTUAN SAMPEL 5
METODE PENGUMPULAN DATA 6
METODE ANALISIS 7
BAB IV ANALISIS DATA 8
LATAR BELAKANG OBJEK PENELITIAN 9
ANALISIS DATA 10
BAGIAN PENUTUP 10
KESIMPULAN 11
Bab I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sungai merupakan suatu badan perairan tawar yang memiliki karakter air mengalir yang alirannya bergerak dari daerah yang topografi tinggi ke daerah topografi yang rendah. Dalam sungai hidup berbagai jenis organisme baik yang hidup bergerak bebas seperti ikan,seperti plankton maupun yang hidup sebagai organisme bentik seperti organisme . sungai adalah suatu ekosistem terbuka yang dapat menerima berbagai aliran atau masukan dari daerah tangkapan air dan dari daerah sekitarnya sehingga dapat mempengaruhi kualitas air dan berpengaruh terhadap organisme yang hidup didalam sungai tersebut.
Sungai-sungai di Indonesia saat ini telah banyak mengalami pencemaran. Pencemaran ini terjadi akibat adanya aktivitas manusia seperti kegiatan industri, pertambangan dan aktivitas rumah tangga, dimana limbahnya, termasuk yang mengandung logam berat, dialirkan ke dalam badan perairan. Kebanyakan dari limbah itu biasanya dibuang begitu saja tanpa pengolahan terlebih dahulu .
Pembuangan limbah ke dalam badan perairan dapat menyebabkan perubahan dan gangguan terhadap sumber daya perairan tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibat langsung tampak antara lain matinya ikan di sungai-sungai, rusaknya usaha pertanian dan perikanan di sekitar tempat pembuangan atau air sungai berbau atau berubah warna sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Akibat tidak langsungnya adalah kerusakan ekosistem sungai seperti merosotnya produktivitas dan keanekaragaman jenis organisme perairan terutama makrozoobentos Makrozoobentos adalah organisme yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan. Menurut Muhammad Dhanil (2014) makrozoobentos adalah hewan bentos yang memiliki ukuran tubuh minimal 3 mm.
Komunitas makrozoobentos dalam air dapat menggambarkan kondisi lingkungan perairan tersebut, karena respon dan adaptasi hewan bentos terhadap berbagai cekaman atau perubahan lingkungan. Dalam lingkungan yang relatif stabil, komposisi dan struktur komunitas makrozoobentos relatif tetap
Keberadaan makrozoobentos dalam perairan dapat digunakan sebagai indikator dalam menentukan kualitas perairan. Hal ini berkaitan dengan hewan bentos yang berada relatif tetap dihabitatnya, memiliki siklus hidup yang panjang, penyebaran yang luas pada berbagai kondisi lingkungan, mobilitas (daya gerak) yang rendah, mudah diidentifikasi jika dibandingkan dengan jenis mikrozoobentos , serta sensitif terhadap perubahan fisika kimia air dan perubahan kondisi substrat dasar sungai sebagai tempat kehidupannya
Adanya perubahan kondisi suatu perairan tersebut dapat ditunjukan dengan perubahan kondisi fisika kimia air dan perubahan kondisi biota perairan yang tampak dari parameter kelimpahan dan keanekaragaman biota perairan tersebut . Pemantauan kualitas perairan sungai secara fisika kimia hanya memberikan gambaran kondisi kualitas perairan sesaat dan tidak bersifat permanen, sedangkan pemantauan kualitas perairan secara biologi dapat menggambarkan kondisi yang sesungguhnya karena keberadaan biota suatu waktu merupakan hasil adaptasinya terhadap kondisi lingkungan yang telah terjadi selama kehidupannya pada perairan tersebut
Batang Arau merupakan salah satu sungai yang cukup besar di Kota Padang. Pada bagian hilir sungai ini sekitar daerah Ujung Tanah terdapat bendungan sungai yang membagi aliran Batang Arau menjadi dua, satu bermuara ke Muara Padang dan satu lagi mengalir ke Banda Bakali (Banjir Kanal) yang bermuara di Pantai Purus Padang. Banda Bakali menampung aliran limbah cair dari pabrik karet (PT. Teluk Luas dan PT. Batang Hari Barisan) dan limbah domestik yang berasal dari daerah pemukiman sekitarnya. Masukan aliran limbah di atas akan dapat memperkaya bahan organik dalam perairan dan mempengaruhi kondisi fisika kimia airnya. Muhammad Dhanil mengatakan bahwa dalam limbah karet mengandung berbagai senyawa kimia seperti latek, protein, karbon, lipid, kromatid, garam-garam dan sejumlah besar asam yang digunakan dalam memproses karet.
Adanya masukan berbagai bahan tersebut ke dalam badan air sampai batas-batas tertentu akan dapat direcovery oleh air dan tidak akan menurunkan kualitas air. Namun apabila masukannya melebihi daya dukung sungai, maka timbul permasalahan yang serius yaitu pencemaran perairan, sehingga berpengaruh terhadap kehidupan biota perairan termasuk didalamnya komunitas makrozoobentos dan kesehatan penduduk yang memanfaatkan air sungai tersebut . Bapedalda Kota Padang menyatakan kualitas air sungai Batang Arau ke arah muara termasuk air kelas III bahkan ada yang kelas IV. Afrizal dan Izmiarti (2006) juga melaporkan bahwa kondisi air sungai ke arah muara sudah temasuk tercemar berat baik dari nilai BOD dan nilai keanekaragaman komunitas bentiknya. Bagaimana fluktuasi komunitas dan jenis hewan bentos yang teradaptasi dalam kondisi demikian masih belum dikaji lebih dalam.
Penelitian tentang makrozoobentos ini dilakukan di Sungai Batang Arau Kota Padang, sebagai indikator kualitas perairan Sungai Batang Arau, Peneliti diatas secara umum mengungkap tentang gambaran kualitas sungai Batang Arau berdasarkan komunitas makrozoobentos, akan tetapi penelitian tentang Komunitas Makrozoobentos dan fluktuasinya berdasarkan waktu baik sebelum dan setelah menerima limbah karet di Sungai Batang Arau Kota Padang belum pernah dilakukan sebelumnya. Menurut Muhammad Dhanil(2014) bahwa populasi sangat ditentukan oleh ruang dan waktu. Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai Komunitas Makrozoobentos sebelum dan setelah menerima Limbah Karet (PT. Teluk Luas dan PT. Batang Hari Barisan) di Sungai Batang Arau Kota Padang.
1.2 Perumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi beberapa faktor fisika kimia air di Sungai Batang Arau Kota Padang sebelum dan setelah menerima limbah karet.
2. Bagaimana komposisi makrozoobentos sebelum dan setelah menerima limbah karet di Sungai Batang Arau Kota Padang.
3. Bagaimana struktur komunitas makrozoobentos sebelum dan setelah menerima limbah karet di Sungai Batang Arau Kota Padang.
4. Bagaimana komposisi dan struktur komunitas makrozoobentos pada waktu yang berbeda di Sungai Batang Arau Kota Padang.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui beberapa kondisi fisika kimia air di Sungai Batang Arau Kota Padang sebelum dan setelah menerima limbah karet.
2. Mengetahui komposisi makrozoobentos sebelum dan setelah menerima limbah karet di Sungai Batang Arau Kota Padang.
3. Mengetahui struktur komunitas makrozoobentos sebelum dan setelah menerima limbah karet di Sungai Batang Arau Kota Padang.
4. Mengetahui komposisi dan struktur komunitas makrozoobentos pada waktu yang berbeda di Sungai Batang Arau Kota Padang.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan terutama dalam bidang Ekologi. Manfaat lain juga adalah memberikan informasi tentang kualitas air sungai Batang Arau berdasarkan parameter biologi yang bermanfaat bagi pemerintah Kota Padang dalam pengelolaan sungai.
Bab II. Landasan Teori
1.1 Telaah Pustaka
Sungai merupakan suatu badan perairan tawar yang memiliki karakter air mengalir yang alirannya bergerak dari daerah yang topografi tinggi ke daerah topografi yang rendah.
sungai adalah suatu ekosistem terbuka yang dapat menerima berbagai aliran atau masukan dari daerah tangkapan air dan dari daerah sekitarnya sehingga mempengaruhi kualitas air dan berpengaruh terhadap organisme yang hidup didalam sungai tersebut.
Makrozoobentos adalah organisme yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan.
Penelitian tentang makrozoobentos ini dilakukan di Sungai Batang Arau Kota Padang, sebagai indikator kualitas perairan Sungai Batang Arau, Peneliti diatas secara umum mengungkap tentang gambaran kualitas sungai Batang Arau berdasarkan komunitas makrozoobentos, akan tetapi penelitian tentang Komunitas Makrozoobentos dan fluktuasinya berdasarkan waktu baik sebelum dan setelah menerima limbah karet di Sungai Batang Arau Kota Padang belum pernah dilakukan sebelumnya.
1.2 Landasan Teoristik
Teorii yang dikemukakan mengenai pengaruh Makrozoobentos disungai serta dampak yang ditimbukan dari pencemaran dari limbah .
1.3 Hipotesis
Banyaknya Komunitas Makrozoobentos mempengaruhi keadaan sungai
Sungai mengalami pencemaran akibat pembuangan limbah ke sungai menyebabkan maklu didalm nya terkena racun
Bab III Metodologi Penelitian
1.1 Identifikasi variabel
Banyaknya Komunitas Makrozoobentos memepengaruhi keadaan sungai
Limbah yang terdapat di sungai mempengaruhi kehidupan botik sungai
1.2 Populasi Penentuan Sampel penelitian
1. Mengetahui beberapa kondisi fisika kimia air di Sungai Batang Arau Kota Padang sebelum dan setelah menerima limbah karet.
2. Mengetahui komposisi makrozoobentos sebelum dan setelah menerima limbah karet di Sungai Batang Arau Kota Padang.
3. Mengetahui struktur komunitas makrozoobentos sebelum dan setelah menerima limbah karet di Sungai Batang Arau Kota Padang.
4. Mengetahui komposisi dan struktur komunitas makrozoobentos pada waktu yang berbeda di Sungai Batang Arau Kota Padang.
Baba IV Analisis Data
Penelitian dilaksanakan selama bulan
Maret - Mei 2005 di Muara Sungai Batang Arau
(Muara Padang), Kota Padang. Pengambilan
sampel air dilakukan sebanyak dua kali dan
dianalisis di Laboratorium Tanah Fakultas
Pertanian dan Laboratorium Kimia Fakultas
MIPA Universitas Andalas.
Lokasi penelitian terdiri dari tujuh
stasiun penelitian, Stasiun 1 terletak di dalam
Sungai Batang Arau yang merupakan daerah
padat penduduk dan aktivitas perkapalan.
Stasiun 2 berada di mulut Sungai Batang Arau
dan berdekatan dengan darmaga tempat
berlabuhnya kapal-kapal nelayan dan kapal
penumpang dengan rute pelayaran Padang-
Mentawai, sedangkan Stasiun 3-7 terletak di
sekitar muara(Gambar 1). Adapun pengambilan
sampel dilakukan saat pasang dan surut.
Gbr 1. Lokasi penelitian muara Sungai Batang
Arau Padang Sumatera Barat
Data yang diambil selama proses
penelitian adalah kecerahan TSS, oksigen
terlarut, TOM, BOD5, COD, pH dan suhu.
Sampel air diambil menggunakan Van Dorn
Water Sampler.
Hasil analisa parameter dibandingkan
dengan baku mutu apakah masih sesuai dan
layak untuk kehidupan biota didalamnya untuk
selanjutnya dibahas secara deskriptif.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Keberadaan total padatan tersuspensi
(TSS) di perairan mempengaruhi intensitas
cahaya matahari ke dalam badan air. Persoalan
kekeruhan sering menimbulkan permasalahan
di estuaria karena fungsinya sebagai daerah
peralihan dan pertemuan antara dua massa air
yang berbeda. Berikut disajikan hasil
pengukuran TSS dan kecerahan
Gbr 1. Lokasi penelitian muara Sungai Batang
Arau Padang Sumatera Barat
Data yang diambil selama proses
penelitian adalah kecerahan TSS, oksigen
terlarut, TOM, BOD5, COD, pH dan suhu.
Sampel air diambil menggunakan Van Dorn
Water Sampler.
Hasil analisa parameter dibandingkan
dengan baku mutu apakah masih sesuai dan
layak untuk kehidupan biota didalamnya untuk
selanjutnya dibahas secara deskriptif
I.4HASIL DAN PEMBAHASAN
Keberadaan total padatan tersuspensi
(TSS) di perairan mempengaruhi intensitas
cahaya matahari ke dalam badan air. Persoalan
kekeruhan sering menimbulkan permasalahan
di estuaria karena fungsinya sebagai daerah
peralihan dan pertemuan antara dua massa air
yang berbeda. Berikut disajikan hasil
pengukuran TSS dan kecerahan Gambar 2.
Gbr 2. Sebaran rata-rata TSS dan kecerahan saat
pasang dan surut. A) TSS, B) Kecerahan
Oksigen adalah salah satu gas terlarut di
perairan alami yang diperlukan organisme
untuk bernafas dan berperan dalam proses
dekomposisi senyawa organik. Berbeda dengan
oksigen, BOD5 (Biochemical Oxygen Demand)
adalah parameter yang digunakan untuk
menggambarkan keberadaan bahan organik di
perairan. Berikut disajikan hasil pengukuran
oksigen terlarut dan BOD5 yang ditemukan
Oksigen adalah salah satu gas terlarut diperairan alami yang diperlukan organisme
untuk bernafas dan berperan dalam proses dekomposisi senyawa organik. Berbeda dengan
oksigen, BOD5 (Biochemical Oxygen Demand) adalah parameter yang digunakan untuk
menggambarkan keberadaan bahan organik diperairan. Berikut disajikan hasil pengukuran
oksigen terlarut dan BOD5 yang ditemukan selama penelitian.
Parameter lain yang juga digunakansebagai penduga pencemaran organik adalah
COD yang menggambarkan total oksigen untukmengoksidasi bahan organik secara kimiawi(Effendi 2003). Berikut disajikan konsentrasiCOD dan TOM yang ditemukan selama penelitian.
Derajat keasaman atau pH menunjukkan
aktivitas ion hidrogen dalam air dan digunakan
untuk mengukur apakah suatu larutan bersifat
asam atau basa. Selain pH, suhu juga memiliki
peranan penting dalam berbagai proses di
perairan seperti faktor pengendali (controling
factor) bagi proses respirasi dan metabolisme biota.
Pembahasan
Gambar 2a memperlihatkan konsentrasi rata-rata TSS di lokasi penelitian berkisar 3 mg/l-159mg/l. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan data yang dilaporkan Bapedalda Kota Padang (2004) berkisar 139-403 mg/l. Secara umum terlihat kandungan TSS lebih tinggi saat surut dibandingkan pasang.Hal ini disebabkan pengaruh masukan dari daratan pada saat surut lebih besar dibandingkan saat pasang. Stasiun 5, 6 dan 7 merupakan stasiun dengan kandungan TSS paling rendah karena letaknya lebih jauh dariSungai Batang Arau yang membawa bahan
tersuspensi. Seperti dikemukakan Chester
(1990), konsentrasi bahan tersuspensi di daerah
estuaria dan pantai lebih bervariasi
dibandingkan laut terbuka (open ocean).Variasi
ini disebabkan oleh adanya masukan dari
daratan sekitar melalui sungai berupa limbah
penduduk, industri dan aktivitas lainnya yang
berkontribusi terhadap peningkatan TSS.
Nilai rata-rata kecerahan perairan Muara
Padang berkisar 40-213 cm. Saat pasang
kecerahan tertinggi ditemukan di Stasiun 5 dan
terendah di Stasiun 2 (Gambar 2b). Ini terjadi
karena Stasiun 1 dan 2 terletak di dalam Sungai
Batang Arau yang membawa buangan
mengandung partikel terlarut dan tersuspensi.
Aliran sungai yang masuk ke perairan pantai
biasanya membawa bahan-bahan tersuspensi
yang akan mengurangi kecerahan atau
transparansi perairan (Pickard 1963).
Sama halnya dengan TSS, terjadi
peningkatan nilai kecerahan pada stasiun yang
mengarah ke laut. Terjadinya penurunan
kualitas air terutama TSS dan kecerahan di
Muara Padang diperkirakan karena
pembuangan sampah dan limbah rumah
tangga, penambangan tanah dan pasir serta
aktivitas kapal di pelabuhan. Hasil pengukuran
padatan tersuspensi dan nilai kecerahan
menunjukkan kandungan bahan tersuspensi
Sungai Batang Arau dan sekitar muara sudah
melebihi baku mutu air laut yang
diperkenankan untuk biota laut (< 20 mg/
Gambar 3a menunjukkan sebaran oksigen
di Muara Padang hampir seragam (kisaran 3,87-
6,70 mg/l). Stasiun 1 dan 2 memiliki kandungan
oksigen terlarut lebih rendah dibandingkan
stasiun lainnya. Berdasarkan Kepmen No.
51/MNLH/2004, oksigen terlarut di sekitar
Sungai dan Muara Batang Arau sudah tidak
memenuhi syarat untuk kehidupan biota (> 5
mg/l). Level kritis untuk oksigen terlarut adalah
dibawah 2 mg/l yang dinamakan kondisi
hypoxic. Jika ini terus berlangsung dapat
mengakibatkan tekanan pada organisme (stres)
dan kondisi perairan menjadi anoxic yang bisa
mengakibatkan kematian biota (Clingan and
Norton 1987).
Gambar 3b menunjukkan nilai rata-rata
BOD5 di lokasi penelitian relatif tidak jauh
berbeda. (1,26-3,97 mg/l). Berdasarkan Kepmen
No. 51/MNLH/2004, Perairan Muara Padang
dilihat dari konsentrasi BOD5 masih layak
untuk kehidupan biota di dalamnya (BOD5 > 20
mg/l).
Gambar 4a memperlihatkan konsentrasi
COD berkisar 8,60-53,80 mg/l dan berdasarkan
PP RI No. 82 (2001), batas maksimal COD yang
diperkenankan untuk kegiatan perikanan
adalah 50 mg/l. Maka didapatkan kesimpulan
bahwa konsentrasi COD Stasiun 2 sudah
melebihi ambang batas. Senada dengan
Laporan Bapedalda Kota Padang (2004) yang
menyebutkan bahwa kualitas air sekitar muara
Sungai Batang Arau terus mengalami
penurunan dalam beberapa tahun terakhir dan
parameter yang mengalami peningkatan
konsentrasi adalah BOD5, COD, TSS, NH3 dan
H2S. Peningkatan kadar BOD5 dan COD terjadi
karena adanya peningkatan kebutuhan oksigen
untuk menguraikan bahan pencemar organik
secara biologi dan kimia.
Hasil penelitian menunjukkkan
konsentrasi COD jauh lebih besar (10 kali lebih
besar) dibandingkan BOD5. Metcalf and Eddy
(1991); Effendi (2003) menyatakan perbedaan
konsentrasi BOD5 dengan COD biasanya terjadi
pada perairan tercemar karena bahan organik
yang mampu diuraikan secara kimia lebih besar
dibandingkan penguraian secara biologi.
Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi
rata-rata TOM relatif seragam antar stasiun
penelitian dengan kisaran rata-rata adalah
12,68-18,55 mg/l. Secara umum terlihat
konsentrasi TOM semakin meningkat pada
stasiun-stasiun yang mengarah ke laut (Gambar
4b).
Hasil pengukuran menunjukkan variasi
nilai pH berkisar 6,19-7,57 (Gambar 5a). Nilai
pH di estuaria berkisar 8,2 dimana pH air tawar
selalu lebih rendah dibandingkan pH air laut
(Chester 1990). Berdasarkan baku mutu, nilai
pH di Muara Padang masih layak untuk
organisme laut yaitu 7-8,5 dengan deviasi 0,2
dari pH alami air laut (Parsons et al. 1984;
Kepmen No. 51/MENLH/2004).
Secara keseluruhan, Gambar 5b
memperlihatkan variasi suhu yang kecil di
lokasi penelitian dengan kisaran 27,33-31,33 0C.
Angka tersebut menunjukkan suhu perairan
Muara Padang tergolong baik dan memenuhi
baku mutu berdasarkan Kepmen No.
51/MENLH/2004.
Bagian Penutup
IV. KESIMPULAN
Analisis terhadap parameter kualitas air
di perairan Muara Padang sebelah dalam
(Stasiun 1 dan 2) menunjukkan adanya indikasi
pencemaran bahan organik dimana kondisi
COD melebihi baku mutu dan tidak sesuai lagi
untuk kehidupan biota di dalamnya (Kepmen
No. 51/MENLH/2004). Adapun daerah muara
dan laut (Stasiun 3, 4, 5, 6 dan 7) memiliki
kualitas air yang masih baik dan mendukung
kelangsungan hidup organisme di dalamnya.
Semoga informasi yang didapatkan dari
penelitian ini dapat dijadikan landasan
kebijakan bagi pemerintah Kota Padang dalam
pengelolaan di masa datang.